Kamis, 01 Maret 2012

TAMA LAMONG



Asal usul tradisi Tama Lamong berasal dari kebiasaan menggunakan Lamong peneliti untuk perempuan ,terutama di Kecamatan Sumbawa ,wanita yang akan memasuki usia remaja harus milikbangsawan dan kerabat tau (kelompok independen). Untuk menghindari bencana yang dapat menimpa tradisi individu yang bersangkutan, dilaksanakanlah Tama Lamong. Hal ini dapat dilihat dalam tahapan prosesi Tama Lamong seperti:barodak ,Maning kudus, dan berguna untuk menolak bala bantuan dalam bentuk penyakit seperti: kesikal (trans) yang bisa menimpa dirinya. 
Dalam pengembangan tradisi ini, mulai mengalami perubahan, karena dalam gagasan, masyarakat Samawa mulai berfokus pada pola fikir praktis ekonomi. Tapi perubahan yang terjadi di Tama Lamong hanya terlihat di permukaan atau kulit saja,sedangkan arti dan tujuan dari upacara ini masih dipertahankan, berarti masih ada orang yang mempertahankan  tradisi ini, karena  menganggap Tradisi ini masih perlu dan berguna dalam kelangsungan hidup masyarakat.
Faktor-faktor  yang  mendorong beberapa perubahan dalam upacara Tama  Lamong antara lain: factor ekonomi, menyebabkan tradisi ini mulai disederhanakan dengan menggabungkanUpacara lainnya, terutama upacara sunat. Juga kemajuan teknologi juga membawa perubahan dalam peralatan yang digunakan dalamTama  Lamong upacara yang tidak lagi menggunakan alat-alat tradisional tetapi telah  diganti dengan peralatan  modern. Hal  ini karena pola fikir masyarakat SUMBAWA yang hanya peduli dengan kepraktisan dari peralatan itu. Dalam hal ini factor pendidikan dan keagamaan juga membawa dampak perubahan sehingga tradisi inimulai jarang        dilakukan oleh masyarakat pendukung.        
Tradisi Tama Lamong yang mulai jarang dilakukan menyebabkan orang mulai mengakui keberadaan tradisi rebuya Sumbawa(Berusaha)  untuk upacara Tama  Lamong.
Wanita yang memiliki upacara Tama Lamong kemudian memiliki kewajiban untuk   menjaga status dan martabat sebagai seorang wanita dengan selalu mengikuti semua kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat mereka. Kebiasaan ini dapat dipelajari dengan partisipasi perempuan dalam berbagai upacara tradisional seperti menjadi ina odak(orang yang mengurus setiap kebutuhan upacara) dani nasaneng (Pendamping pengantin wanita) dalam upacara pernikahan. Tradisi Tama Lamong mulai mengalami  kepunahan, oleh karena itu pemerintah diharapkan Sumbawa local dan budaya ahli untuk lebih memperhatikan keberadaan upacara tama lamong. Kekhawatiran ini dapat  menjadi motivasi, atau fasilitas seremonial sehingga masyarakat terus melakukan      upacara seperti Tama Lamong yang  dilakukan oleh nenek moyang mereka, sehingga          generasi muda khususnya dalam Kabupaten Sumbawa masih akrab dan menyadari keberadaan tradisi Tama Lamong.
Tradisi Tama Lamong adalah tradisi yang hanya dilakukan oleh seorang wanita yang akan memasuki usia remaja. Tama Lamong dapat bertahan dalam kehidupan masyarakat karena tradisi ini masih dianggap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tersebut. Perkembangan dalam kehidupan suatu masyarakat pasti akan mengalami perubahan-perubahan termasuk dalam pelaksanaan tradisi Tama Lamong dari bentuk sebelumnya sehingga diperlukan adanya suatu pelestarian dari generasi penerusnya. 
Agar lebih mengenal tradisi Tama Lamong ini maka salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan dokumentasi berupa kajian ilmiah mengenai keberadaan tradisi tersebut. 
  
menganalisis kelangsungan dan makna pendidikan dalam tradisi Tama Lamong di tengah-tengah kehidupan masyarakat Kecamatan Sumbawa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan termasuk dalam jenis penelitian deskriptif. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data 
yang digunakan adalah analisis interaktif yang telah dilakukan sejak di lapangan. 
    Hasil dari analisis interaktif kemudian direduksi untuk diperoleh gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan. Selain analisis interaktif digunakan juga 
komparasi data dengan tujuan membandingkan kasus Tama Lamong yang satu dengan kasus Tama Lamong yang lainnya sehingga ditemukan perubahan dalam tradisi tersebut. Terakhir data diinterpretasi dengan teori perubahan kebudayaan. 
Dari sini dapat disimpulkan tentang perubahan yang terkandung dalam tradisi Tama Lamong sehingga tradisi ini tetap dipertahankan. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data temuan dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi, dan teknik ketekunan pengamatan. 
Penelitian ini memperoleh hasil yaitu:                                                                          

1) Asal mula tradisi Tama Lamong adalah bermula dari kebiasaan menggunakan lamong pene bagi seorang wanita Sumbawa khususnya di Kecamatan Sumbawa yang akan memasuki usia remaja. Wanita yang melaksanakan tradisi Tama Lamong haruslah dari golongan bangsawan dan tau sanak (golongan merdeka). Guna menghindari malapetaka yang dapat menimpa individu yang bersangkutan maka dilaksanakanlah tradisi Tama Lamong. Hal ini dapat dilihat dalam prosesi Tama Lamong yang dalam tahapannya seperti barodak dan maning suci berguna untuk menolak bala berupa penyakit seperti kesikal (kesurupan) yang dapat menimpa wanita tersebut.                                            
 2) Dalam perkembangannya tradisi ini mulai mengalami perubahan yang disebabkan oleh adanya perubahan ide pada masyarakat bangsawan Samawa yang mulai menitikberatkan pada pola fikir praktis ekonomis. Namun perubahan yang terjadi dalam Tama Lamong hanya terlihat pada permukaannya atau kulitnya saja, sedangkan makna dan tujuan dari upacara ini masih tetap dipertahankan, artinya masih ada masyarakat yang tetap melaksanakan tradisi ini karena menganggap tradisi ini masih diperlukan dan berguna dalam kelangsungan hidup masyarakattersebut.                                                                                                                    

 3) Adapun beberapa faktor yang mendorong perubahan dalam pelaksanaan upacara Tama Lamong antara lain, faktor ekonomi yang menyebabkan tradisi ini mulai disederhanakan dengan menggabungkannya dalam upacara-upacara lain terutama dalam upacara khitan. Selain itu kemajuan teknologi juga membawa perubahan dalam peralatan yang digunakan dalam upacara Tama Lamong yang tidak lagi menggunakan peralatan tradisional melainkan telah diganti dengan peralatan modern. Hal ini dikarenakan pola fikir masyarakat Sumbawa yang lebih mementingkan kepraktisan dari peralatan tersebut. faktor pendidikan dan agama dalam hal ini Agama Islam juga membawa dampak perubahan sehingga tradisi ini mulai jarang dilakukan oleh masyarakat 
pendukungnya.                                                                                                                                                      

4) Tradisi Tama Lamong yang mulai jarang dilakukan menyebabkan masyarakat Sumbawa mulai mengenal adanya tradisi rebuya(mencari) agar dilaksanakan upacara Tama Lamong.                                                                            
5) Wanita yang telah melakukan upacara Tama Lamong maka memiliki kewajiban untuk menjaga harkat dan martabatnya sebagai wanita dengan selalu mengikuti segala adat istiadat dalam masyarakatnya. Adat istiadat ini dapat dipelajari dengan mengikutsertakan wanita tersebut dalam berbagai upacara adat seperti menjadi ina odak (orang yang mengurus segala keperluan upacara) dan ina saneng(pendamping kedua mempelai) dalam upacara perkawinan. Tradisi Tama Lamong mulai mengalami kepunahan, oleh sebab itulah diharapkan kepada pemerintah setempat dan budayawan Sumbawa untuk lebih memperhatikan keberadaan upacara Tama Lamong. Perhatian ini dapat berupa motivasi, atau fasilitas upacara agar masyarakat tetap melaksanakan upacara Tama Lamong seperti yang dilakukan oleh nenek moyangnya, sehingga generasi muda khususnya yang berada di Kecamatan Sumbawa tetap mengenal dan mengetahui keberadaan tradisi Tama Lamong.



0 komentar:

Posting Komentar

anda pengunjung ke

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut